Layaknya, program makan bergizi yang digagas pemerintah Prabowo Subianto menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Industri pangan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di pasar global.
Namun di balik itu, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia hanya akan berhenti sebagai pasar dari produk pangan, atau mampu naik kelas menjadi pemain global dengan produk bernilai tambah?
Masalah Utama: Indonesia Masih di Level Bahan Mentah
Jika ditelusuri lebih dalam, masalahnya bukan terletak pada ketersediaan bahan pangan, melainkan pada bagaimana bahan tersebut diolah. Sebagian besar produk pertanian Indonesia masih berhenti di tahap awal rantai produksi, tanpa melalui proses industrialisasi yang mampu meningkatkan nilai jualnya di pasar global.
Tentu saja ini fakta, bahkan Kementrian Pertanian pun merilis hal tersebut pada website Dirjen Perkebunan Kementrian Pertanian. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci transformasi sektor pertanian dari berbasis bahan baku menjadi produk bernilai tinggi.
Bayangkan jika produk kita tidak dijual mentah. Sebagai contoh, komoditas seperti kelapa, kakao, kopi, hingga singkong sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk setengah jadi atau produk olahan bernilai tinggi.
Contoh Produk Pangan Bernilai Tinggi
Kelapa tidak harus selalu diekspor dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi santan instan, minyak kelapa, hingga produk turunan seperti desiccated coconut yang banyak digunakan industri makanan global. Kakao dapat diproses menjadi cocoa butter, bubuk cokelat, atau bahan baku industri confectionery.
Sementara itu, kopi tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi roasted bean, kopi bubuk, hingga produk siap minum dengan branding yang kuat.
Bahkan komoditas sederhana seperti singkong dapat diolah menjadi tepung tapioka atau modified cassava flour (mocaf) yang memiliki pasar luas di industri pangan. Produk-produk ini memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah, serta lebih kompetitif di pasar internasional karena lebih siap digunakan oleh industri maupun konsumen akhir.
Negara seperti Thailand dan Vietnam telah lebih dulu memanfaatkan strategi ini untuk meningkatkan nilai ekspor mereka.
Mari kita bedah dua negara pesaing kita.
Bank Dunia sering mengeluarkan laporan tentang bagaimana Vietnam bertransformasi dari negara yang kekurangan pangan menjadi eksportir beras, kopi, dan makanan olahan terbesar di dunia melalui integrasi industri. Dan faktanya sekarang Vietnam tidak hanya menjual kopi mentah (Robusta), tapi mereka mulai membangun pabrik pengolahan kopi instan terbesar untuk menyuplai pasar Asia.
Thailand dikenal dengan julukan "Kitchen of the World" (Dapur Dunia). Mereka sangat fokus pada standardisasi produk olahan agar bisa langsung masuk ke supermarket di Eropa dan Amerika tanpa perlu diolah lagi di sana. Dan faktanya, ekspor makanan olahan Thailand menyumbang porsi yang sangat besar terhadap PDB mereka dibandingkan Indonesia yang masih bergantung pada CPO mentah.
Masih Ada Peluangkah?
Peluang pasar global untuk produk pangan olahan dan setengah jadi sebenarnya sangat besar. Permintaan terhadap produk seperti santan instan, makanan beku, hingga bahan baku industri pangan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup yang mengutamakan kepraktisan.
Negara-negara maju maupun berkembang kini lebih banyak mengimpor produk yang siap digunakan, dibandingkan bahan mentah yang masih memerlukan proses lanjutan. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku, namun belum sepenuhnya mampu memanfaatkan tren tersebut.
Jika industri pangan indonesia mampu dikembangkan secara konsisten, Indonesia tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi pemasok utama produk pangan bernilai tambah di pasar global.
Artinya, peluang sudah ada, tetapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana Indonesia mampu menangkap dan mengelolanya dengan tepat.
Tantangan Industri Pangan Indonesia
Dengan segala potensi yang dimiliki, Indonesia seharusnya mampu menjadi pemain utama dalam industri pangan global. Namun untuk mencapai hal tersebut, diperlukan perbaikan menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur, regulasi, maupun penguatan pelaku usaha.
Tanpa langkah konkret, peluang besar sebagai industri pangan indonesia hanya akan menjadi wacana.
Untuk memahami lebih dalam tantangan yang dihadapi Indonesia dalam meningkatkan daya saing ekspor, Anda dapat membaca pembahasan lengkapnya di artikel berikut:
Ekspor Indonesia Tumbuh, Tapi Kenapa Masih Kalah? Ini Masalah Sebenarnya
Pertanyaannya sekarang: apakah Indonesia siap naik kelas, atau tetap bertahan di posisi yang sama?

0 Komentar